11 April 2017

Potensi Terbaru E-commerce Indonesia?

Topic Icon
Empowering from Bricks to clicks
  • Inside Icon
  • Inside Icon
  • Inside Icon
  • Inside Icon


Saat ini, toko online menjadi kompetitor langsung toko fisik. Konsumen juga mengalami perubahan perilaku pembelian atau buying habit. Penyedia platform e-commerce atau marketplace pun optimis mampu mengubah kebiasaan berbelanja konsumen Indonesia. Namun tak bisa dipungkiri, industri e-commerce Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain sehingga membutuhkan banyak dukungan dari stakeholder yang terlibat di dalamnya.

Partner at Convergence Ventures Donald Wihardja mengungkap online retail di Indonesia sebenarnya hanya sebesar 1,5% saja. Berbeda dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan China yang sudah di atas 10%. Beliau menegaskan, transaksi di Indonesia masih lebih banyak terjadi di ranah offline meski diawali dengan proses online. Para pemain e-commerce perlu menjembatani dua hal tersebut. Caranya adalah dengan menerapkan bricks to clicks.

Bricks to clicks terjadi saat pelaku bisnis mengintegrasikan bisnis offline mereka dengan bisnis online, salah satunya dilakukan dengan menjadikan toko online sebagai bagian dari toko offline.

Membahas bricks to clicks, CEO Blanja.com Aulia Ersyah Marinto menjelaskan bahwa salah satu elemen utama pertumbuhan e-commerce adalah meningkatnya retail offline yang memanfaatkan e-commerce seperti marketplace atau toko online sebagai ekspansi untuk memperluas jangkauan bisnisnya. Salah satu pelaku bisnis yang dianggap potensial untuk melakukan bricks to clicks adalah retailer atau pengecer tradisional yang mempunyai logistik dan rantai pasokan yang luas. Aulia juga menjelaskan keuntungan mengintegrasikan toko offline dan online. “Toko offline dapat mengiklankan produk-produknya melalui model e-commerce yang disebut classified ads, sehingga mereka dapat melakukan jangkauan pemasaran atau memperbesar kemungkinan memperoleh pembeli-pembeli secara lebih luas,” tukasnya. Sebaliknya Aulia juga menyebutkan online retailer dengan yang memiliki inventory online juga bisa memanfaatkan kehadiran toko offline.

Senada dengan Aulia, Donald berpendapat bahwa peran online terhadap toko offline bisa jadi salah satu upaya perusahaan membesarkan brand-nya. “Brand harus tetap ingat bahwa masa depan sebagian besar brand building mereka akan berada di online. Seperti menyambut trend, sebelum kita dikejar oleh trend tersebut, lebih baik kita mengubah traffic yang ada. Posisi offline juga harus menjadi kuat di online, supaya tetap menjaga brand dominance-nya di masa depan,” ujarnya.

Integrasi offline to online atau sebaliknya juga diamati CEO Blibli.com, Kusumo Martanto. Ia optimis keduanya akan bertumbuh, asalkan konsumen merasakan pengalaman offline dan online yang sama bagusnya. Selama masa integrasi, Blibli.com melakukan edukasi secara aktif dengan mendirikan kios Blibli Now untuk menjembatani aktivitas online dan offline. Di kios Blibli Now, value added services diberikan sama dengan penjualan online.  “Kita juga melihat banyak sekali offline retailer yang dulunya mungkin skeptis, sekarang sudah lebih senang. Kita juga memberikan pelatihan ke mereka,” ujar Kusumo tentang program kios Blibli Now.

Beliau menambahkan, cara menghapus skeptisisme pelaku bisnis e-commerce adalah dengan membuat bricks to clicks atau clicks to bricks berjalan dengan mulus. ”Yang paling utama adalah pengalaman konsumen harus bagus.”

Cara memperlancar proses bricks to clicks dan menumbuhkan kepercayaan pelaku bisnis untuk mengintegrasikan bisnis offline dan online atau sebaliknya, menjadi salah satu agenda Indonesia E-commerce Summit & Expo (IESE). Digelar selama 9 – 11 Mei 2017 di ICE BSD City Tangerang, IESE 2017 akan menghimpun stakeholders dan seluruh elemen ekosistem e-commerce Indonesia untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai “The Digital Energy of Asia”.

JOIN US AT IESE 2017 NOW!

Ingin mendapat informasi lebih lanjut? Beli tiketnya sekarang juga!

Buy Tickets
BUY TICKETS